Selasa, 11 November 2014

ASSESMENT AUTENTIK



ASSESMENT AUTENTIK


a. Definisi Dan Makna Asesmen Autentik
Penilaian (assesment) adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.  Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran, yang meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian autentik menilai kesiapan peserta didik, serta proses dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga komponen (input – proses – output) tersebut akan menggambarkan kapasitas, gaya, dan hasil belajar peserta didik, bahkan mampu menghasilkan dampak instruksional (instructional effects) dan dampak pengiring (nurturant effects) dari pembelajaran.
Wiggins (dalam Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013,2013) mendefinisikan penilaian autentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktivitas-aktivitas pembelajaran, seperti meneliti, menulis, merevisi dan membahas artikel, memberikan analisis oral terhadap peristiwa, berkolaborasi dengan antarsesama melalui debat, dan sebagainya.   Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah (scientific approach) , karena penilaian semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menanya, menalar, mencoba, dan membangun jejaring. Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
 
Asesmen autentik adalah suatu proses evaluasi yang melibatkan berbagai bentuk pengukuran terhadap kinerja yang mencerminkan pembelajaran siswa, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran (American Librabry Association, Dalam Syofiana, 2010). Senada dengan pendapat tersebut, O’malley dan Pierce (Dalam Anonim, tt) mengatakan bahwa asesmen otentik adalah bentuk penilaian yang menunjukkan pembelajaran siswa yang berupa pencapaian, motivasi, dan sikap yang relevan dalam aktivitas kelas. Sedangkan menurut Newton Public Schools (Dalam Syofiana, 2010) Asesmen otentik merupakan penilaian terhadap produk-produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman kehidupan nyata peserta didik. Berdasarkan beberapa pengertian tentang asesmen otentik yang telah dikemukkan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa asesmen otentik merupakan suatu proses evaluasi yang melibatkan berbagai bentuk pengukuran yang berupa produk-produk dan kinerja yang mencerminkan pembelajaran siswa, pencapaian, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam pembelajaran di kelas. Asesmen otentik memberikan siswa seperangkat tugas yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktifitas-aktifitas pengajaran: melakukan penelitian; menulis, merevisi dan membahas artikel; memberikan analisa oral terhadap peristiwa politik terbaru; berkolaborasi dengan siswa lain melalui debat, dan sebagainya.  Melalui asesmen otentik, siswa lebih terlibat dalam tugas dan guru dapat lebih yakin bahwa asesmen yang diberikannya itu bermakna dan relevan (Wiggins, Dalam Syofiana, 2010).
Asesmen otentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. Asesmen otentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya . Atas dasar itu, guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan. Maka dari itu asesmen otentik harus menjadi bagian integral dari pengajaran, sehingga dengan demikian penilaian tidak digunakan hanya sebagai suatu alat untuk mengumpulkan data sebagaimana dalam paradigm lama, tetapi juga untuk mempengaruhi pengajaran. Ini memerlukan penerapan dan pengembangan fungsi penilaian yang mengukur produktivitas siswa, pencapaian mereka dalam pembelajaran kemampuan  berpikir matematis dalam mendapat suatu hasil yang berarti bagi siswa tersebut. Penilaian autentik mempunyai karakter pokok  yang sama dengan pengajaran, yang berguna bagi para guru untuk meningkatkan pengajaran. Dalam penilaian autentik  diharapkan para siswa dapat merumuskan permasalahan, memikirkan solusi, dan menginterpretasikan hasil.

B. Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013
Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013. karena, asesmen semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik , baik dalam rangka mengobservasi , menalar , mencoba , membangun jejaring dan lain –lain . Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas – tugas kompleks atau kontestual , memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik , karena nya asesmen autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembelajaran , khusus nya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai .kata lain dari asesmmen autentik adalah penilaian kinerja, portofolio , dan penilaian proyek . Asesemen autentik adakalanya disebut penilaian responsif , suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang memiliki ciri khusus. Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek . asesmen autentik harus mampu  menggambar kan sikap , keterampilan , dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik ,bagaimana mereka menerapkan perolehan belajar,dan sebagainya  atas dasar itu guru dapat mengidentivikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remedial harus dilakukan .
c.       Penilaian sebenarnya (autentik assessment) dan belajar autentik
            Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa . gambaran perkembangan belajar siswa perlu di ketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu di perlukan di sepanjang proses pembelajaran maka assessment tidak di lakukan di akhir periode seperti akhir semester.
            Pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar seperti formatif dan sumatif, tetapi dilakukan bersama dengan cara terintegrasi yaitu tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang benar seharusnya di tekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan di tekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode di akhir pemblajaran. Karena assessment menekankan pada proses pembelajaran, maka data yang di kumpulkan harus di peroleh dari kegiatan nyata yang di kerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Misalnya guru yang ingin mengatahui perkembangan belajar bahasa inggris misalnya bagi para siswanya harus mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat para siswa menggunakan bahasa inggris bukan pada saat para siswa mengerjakan test bahasa inggris. Data yang di ambil dari kegiatan para siswa saat siswa melakukan kegiatan berbahasa inggris baik dalam kelas maupun di luar kelas itulah yang di sebut data autentik
Karakteristik assessment autentik adalah
1.      Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung .
2.      Bisa di gunakan untuk formatif maupun sumatif.
3.      Yang di ukur keterampilan dan performansi bukan hanya mengingat fakta.
4.      Berkesinambungan
5.      Terintegrasi.
6.      Dapat di gunakan sebagai feedback.
Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya di tekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan di tekankan pada di perolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. ( Depdiknas, 2003:10)
Asesmen Kinerja
Asesmen kinerja adalah asesman yang menekankan pada apa yang dapat dikerjakan oleh siswa dalam bentuk kinerja, dari pada apa yang dapat dijawab oleh siswa. Asesmen kinerja merupakan bentuk asesmen alternatif atas kelemahan tes baku atau tes kertas pensil. Bentuk asesmen kinerja dapat berupa tugas (task), kreteria penilaian (rubric) dan bentuk non-tes.
Asesmen kinerja dapat diterapkan dikelas rendah dan dikelas tinggi misalnya kemampuan menulis. Pada kelas rendah misalnya kelas satu SD kemampuan menulis yang dimaksud adalah kemampuan membuat tulisan tangan. Kemampuan ini dapat mengkur prosedur dan hasil tulisan tangan. Alat yang dapat digunakan misalnya rating scale. Contoh rating scale yang digunakan untuk mengukur kemampuan menulis siswa kelas satu SD.
No
Aspek yang diukur
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
Cara memegang pensil
Posisi duduk waktu menulis
Posisi tangan terhadap kertas
Letak kertas yang akan ditulis
Jarak mata dari kertas/meja





6
7
8
9
10
Bentuk huruf
Cara merangkai huruf
Kejelasan tulisan
Keindahan tulisan
Kebenaran tulisan






Untuk kelas tinggi kemampuan menulis bukan ditekankan pada kemampuan menulis huruf. Kemampuan menulis pada siswa kelas tinggi dapat diterapkan pada asesmen kinerja dalam bentuk membuat tugas karangan. Kemampuan mengarang dapat menunjukkan kemampuan siswa dalam berpikir abstrak. Kemampuan dapat dinilai dari sebuah karangan misalnya kemampuan mengungkapkan gagasan, kemampuan merangkai kata, kemampuan merangkai kalimat dalam satu gagasan dan kemampuan lainnya.

Fungsi Asesmen Kinerja dalam Pembelajaran
Asesmen merupakan bagian yang penting dalam proses pembelajaran didalam bidang studi apapun. Asesmen hendaknya dibedakan dari pengukuran prestasi belajar. Pengukuran prestasi belajar menyangkut pengumpulan informasi tentang prestasi murid-murid melalui tes dan lembar kerja, seangkan asesmen merupakan konsep yang lebih luas mencakup penilaian profesional pendidik, perasaan dan pengamatan, serta informasi-informasi lain yang anda kumpulkan dari lingkungan belajar.
Fungsi asesmen dibagi atas 4 bagian, yaitu:
1.      Sebagai alat untuk merencanakan, pedoman, dan memperkaya pembelajaran IPA dikelas.
2.      Sebagai alat komunikasi dengan murid-murid, administrator dan orang tua murid, tentang pentingnya IPA.
3.      Sebagai alat untuk memonitor hasil belajar IPA dan perbaikan pembelajaran.
4.      Sebagai alat untuk memperbaiki kurikulum dan pengajaran IPA.
Jenis-jenis asesmen menurut tujuan
Ada tiga jenis asesmen menurut tujuan asesmen yaitu tujuan diagnostik, tujuan formatif, dan tujuan sumatif. Asesmen diagnostik diberikan sebelum memulai mengeksplorasi suatu topik. Gunanya untuk hal-hal apa yang belum diketahui murid, dan hal-hal apa saja yang diketahui murid secara salah atau dengan perkataan lain untuk melacak miskonsepsi IPA secara dini.
Asesmen formatif dilangsungkan selama pembelajaran untuk mengetahui apa saja yang dipelajari murid-murid, juga untuk mendapat balikan dari murid-murid apakah perlu mengadakan modifikasi metode pembelajaran atau rancangan pelajaran.aesmen formatif juga memberikan balikan dalam bimbingan kepada murid-murid dalam menyelesaikan tugasnya.
Asesmen formatif ilangsungkan sesudah proses pembelajaran selesai. Kegunaan asesmen sumatif adalah untuk menilai berupa banyak yang dapat diserap oleh murid-murid dan untuk mendapatkan nilai akhir murid-murid. Padal tabel 3 berikut :

Jenis asesmen
Saat asesmen
Alasan asesmen
Cara pelaksanaan asesmen
Diagnostik





Formatif








Sumatif
Sebelum pembelajaran





Selama pembelajaran








Setelah pembelajaran

Mendeteksi kebutuhan murid, dan apa-apa yang sudh dan apa-apa yang belum diketahui murid.

Untuk mendapatkan balikan segera untuk memodifikasi pembelajaran konsep, atau membimbing murid dalam menyelesaikan tugas.


Terutama untuk mengumpulkan nilai, mengases berapa banyak yang diserap murid


Empat cara :
1.      Tes tertulis (tes pensil & kertas)
2.      Laporan tertulis proyek yang dikerjakan murid
3.      Portofolio
4.      Observasi guru dan kinerja murid

Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja, yaitu :
a.       Daftar cek (checklist). Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan.
b.      Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. Dari laporan tersebut, guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yng diterapkan.
c.       Skala penilaian (rating scale). Digunakan dengan menggunakan skala numerik. Misalnya 5 = baik sekali, 4 = baik,  3 = cukup, 2 = kurang, 1 = kurang sekali.
d.      Memory atau ingatan (memory aproach). Digunakan oleh guru dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu, dengan tanpa membuat catatan. Guru menggunakan informasi dari memorynya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum.

Penilaian diri (self assesment) termasuk dalam rumpun penilaian kinerja. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian dimana pesserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik.

§  Penilaian ranah sikap. Misalnya, peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kreteria atau acuan yang telah disiapkan.
§  Penilaian ranah keterampilan. Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kreteria atau acuan yang telah disiapkan.
§  Penilaian ranah pengetahuan. Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kreteria atau acuan yang telah disiapkan.
a.      Pengertian Penilaian Proyek
Informasi hasil penilaian yang diperoleh dapat dijadikan sebagai pertimbangan bagi sekolah untuk menyusun berbagai program pendidikan di sekolah untuk masa yang akan datang. Salah satu teknik yang digunakan adalah penilaian Proyek. Penilaian proyek merupakan penilaian untuk mendapatkan gambaran kemampuan menyeluruh/umum secara kontekstual, mengenai kemampuan siswa dalam menerapkan konsep dan pemahaman mata pelajaran tertentu. Penialaian ini dilakukan dengan memberikan tugas  yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman,kemampuan pada mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik mata pelajaran tertentu secara jelas. Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan yaitu:
1.      Kemampuan pengelolaan
Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
2.      Relevansi
Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.
3.      Keaslian
Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.

b. Teknik Penilaian Proyek
Penilaian proyek ini, penialainnya ditekankan pada proses dan produk kerja yang dilakukan oleh siswa.
Penilaian yang menekankan pada proses, bertujuan melihat kemampuan siswa dalam merencanakan dan mengorganisir tugas-tugasnya serta mendorong siswa untuk bekerjasama dengan siswa yang lain sehingga terbangun kebersamaan (Team Work). Kerja sama dalam kelas merupakan proses belajar dua arah. Anak yang belajar dan mengajari sama-sama belajar untuk memahami suatu hal, dengan ini akan tumbuh rasa solidaritas di antara teman dan anak juga peduli dengan teman yang lain.

Langkah yang perlu dilakukan dalam penilaian proyek yang berfokus pada proses yaitu :
1.      Merencanakan penilaian
·         Hal ini bertujuan melihat kesesuiannya dengan kompetensi yang dituntut kurikulum, misal:
            1. Kerja ilmiah : Kerja ilmiah merupakan kerja yang dilakukan menurut teori-teori ilmiah, dalam SD/MI biasanya menggunakan teori-teori sederhana yang mudah diterapkan oleh siswa.
 2. Berpikir dan bekerja sistematik : artinya siswa dapat menerapakan pengetahuannya dengan baik sesuai dengan langkah-langkah yang harus dilakukan tahap demi tahap.
 3. Menggunakan alat sains : misalnya mengamati (observasi) dengan menggunakan alat sains seperti LUV, mikroskop, dan lain-lain.
            4. Kerja matematik : merupakan keterampilan menghitung, untuk melatih logika mereka. Siswa dapat dilatih menghitung dengan sederhana, misalnya menghitung kelereng, batu kerikil, rumah dan lain-lain. Semakin tinggi tingkat sekolah anak, semakin sulit soal-soal menghitung  yang ditugaskan kepadanya.
 5. Mengumpulkan data : adalah kemampuan mengumpulkan data merupakan hal yang penting dalam  penialain proyek karena dengan keterampilan ini siswa akan mengetahui data-data yang dibutuhkan dalam penelitian mininya.
·         Dapat dikelola, karena siswa yang akan dinilai siswa SD/MI maka topik yang diberikan guru hendaknya topik tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Penentuan topik ini dilakukan oleh guru.

2.Merancang spesifikasi proyek yang berfokus pada proses
Yang harus dilakukan adalah :
a. Memilih topik, topik yang dipilih tentunya berkaitan dengan kebutuhan siswa maupun kemampuan siswa dan terdapat dalam komptensi dasar (KD), dapat dipilih oleh siswa dari topik-topik yang  disediakan guru.
b. Memetakan area yang akan dicakup  (dapat ditempuh dgn curah pendapat)
Contohnya sebagai berikut :
Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir proyek. Untuk itu, guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan desain, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster.
Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrument penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. Beberapa contoh kegiatan peserta didik dalam penilaian proyek:
Tugas : Lakukan penelitian sederhana tentang kandungan yudium dalam garam yang beredar di masyarakat .
Selanjutnya penilaian yang berfokus pada produk, langkah-langkah yang harus dilakukan ialah :
1.      Merencanakan penilaian, rencana penilaian hendaknya menerapkan langkah-langkah sebagai berikut :
·         Melihat kesesuiannya dengan kompetensi yang dituntut kurikulum, misal:
a.       Pengumpulan informasi khusus
b.      Interpretasi data
c.       Memaparkan hasil/laporan
·         Dapat dikelola

2.      Merancang spesifikasi proyek yang berfokus pada produk :
ü  Ditentukan lingkup dan cara pengumpulan data
ü  Ditentukan cara presentasi/pelaporannya
ü  Ditentukan dan dikomunikasikan kriteria penilaiannya (misal: 20% untuk proses, 80%  untuk produk yg terbagi 50% untuk isi   laporan, 30 % penyajian laporan)

c.    Pencatatan Penilaian Proyek
Penilaian proyek dapat dicatat dengan tiga cara :
  1. Holystic rating
Penilaian Proyek oleh Siswa
Contohnya :
5          : sangat bagus,   komentar ….
4          : bagus,              komentar ….
3          : sedang,             komentar …
2          : kurang,             komentar …
1          : sangat kurang, komentar …
0          : tdk memenuhi, komentar …    

  1. Analytic rating
Nama:…………………….      Kerja Praktik
1.      Penggunaan bahasa dan simbol statistik dengan benar (3 poin) _____
Komentar: …….
2.      Membuat tabel dan grafik dengan benar (3 poin) ___
Komentar: ……
3.      Benar dlm penghitungan statistik (3 poin) __
Komentar: …………………..
4.      Benar dlm memilih bentuk tabel, grafik, dan penyimpulan statistik (3 poin) ___
Komentar: ………
5.      Deskripsi dan interpretasi data masuk akal (3 poin) ….
                        Komentar: ……
6.      Penyimpulan memadai (3 poin) ……………
TOTAL SKOR (18 POIN) …………

  1. Analytic cheklist
Contoh analitic checklist
  ABSTRAK/RINGKASAN
1.      Ada pernyataan singkat menginformasikan ke pembaca (ya/mgk/tdk)
2.      Pernyataan mengindikasikan bidang tertentu (ya/mgk/tdk)
3.      Menyebutkan metodologi yg digunakan (ya/mgk/tdk)
4.      Pernyataan menggambarkan titik tolak  pembicaraan dan penyimpulan
5.      Apakah sesuai dengan bahan yg digunakan (ya/mgk/tdk)
  PENDAHULUAN
1.      Pokok persoalan diperkenalkan (ya/mgk/tdk)
2.      Problem/data/investigasi sesuai konteks (ya/mgk/tdk)
3.      Ada eviden ttg perencanaan? Jika ya, apakah perencanaan itu diikuti (ya/mgk/tdk)
4.      Siswa mengetahui hakikat penelitian (ya/mgk/tdk)
  ISI
1.      Isi logis, argumennya masuk akal (ya/mgk/tdk)
2.      Apakah penghitungan/analisis benar (ya/mgk/tdk)
3.      Analisis yang digunakan memenuhi standar (ya/mgk/tdk)
4.      Penentuan keputusan / hasil / pembandingan / mempertentangkan / kritik / generalisasi benar (ya/mgk/tdk)
5.      Tetap/tidak melenceng dari gagasan awal (ya/mgk/tdk)
6.      Proyek sesuai dengan rancangan semula (ya/mgk/tdk)
7.      Siswa memahami dan bertindak sesuai dgn advis supervisor (ya/mgk/tdk)
8.      Apakah kerangka penelitian original (ya/mgk/tdk)
9.      Apakah siswa mempelajari hal yg baru (matematik, aplikasi program, teknik (ya/mgk/tdk)
10.  Apakah ini karya asli siswa (ya/mgk/tdk)

d.   Pelaporan
Contoh:
Tahap 1 Guru menggunakan 7 kriteria dalam 6 skala
1.    Presentasi tugas ( 1  2  3  4  5  6 7)
2.    Penggunaan referensi ( 1 2 3 4 5 6 7 )
3.    Uraian ( 1 2 3 4 5 6 7 )
4.    Kedalaman penelitian ( 1 2 3 4 5 6 7 )
5.    Pemahaman pada persoalan (1 2 3 4 5 6 7 )
6.    Analisis, interpretasi akurat ( 1 2 3 4 5 6 7 )
7.    Pemilihan visualisasi memadai ( 1 2 3 4 5 6 7 )

Tahap ke 2: guru menentukan level pencapaian A – E
A : Siswa menghasilkan penelitian luar biasa
B : Siswa menghasilkan penelitian sgt bagus
C : Siswa menghasilkan penelitian bagus
D : Siswa menghasilkan penelitian kurang
E : Siswa menghasilkan penelitian sangat    kurang

Contoh lembar spesifikasi pengumpulan data
Nama……………………..
KERANGKA PROPOSAL
  Lingkup minat: ……………………………
  Kemungkinan judul: …………………………
  Tujuan studi: …………………………………….
STRATEGI KERJA
  Hipotesis kerja/tujuan/model……..
  Pengumpulan dan sumber data……
            SUMBER DAN BATASAN
Lokasi studi            :…….
 Alat dan bahan :……..
 Biaya :…………
 Waktu :…………….
 Keterampilan :…..
 Antisipasi Problem :………
BATAS STUDI                                        PRESENTASI
  Penelitian berakhir pada……………   A4 dlm file terjilid
  Draf pertama selesai pada…………   Ringkasan 50 kata, daftar isi
  Penyerahan terakhir pada…………   1500-2000 kata, tidak termasuk
                                                                        diagram dan peta
PENILAIAN PORTOFOLIO
1.      Pengertian Portofolio Menurut Buku “Pembelajaran dalam Implementasi KURIKULUM Berbasis KOMPETENSIi”
Portofolio dapat diartikan sebagai kumpulan karya siswa yang disusun secara sistematis dan terorganisir sebagai hasil dari usaha pembelajaran yang telah dilakukannya dalam kurun waktu tertentu. Melalui hasil karya tersebut guru dapat melihat perkembangan kemampuan siswa baik dalam aspek pengetahuan, sikap maupun keterampilan sebagai bahan penilaian. Hasil karya yang dihasilkan bisa hasil karya yang dikerjakan didalam kelas (artifacts), atau bisa juga hasil kerja siswa yang dilakukan diluar kelas (reproduction). Hasil karya siswa itu kemudian dinamakan evidence. Melalui evidenci inilah, siswa dapat mendemonstrasikan unjuk kerja kepada orang lain baik tentang pengetahuan, sikap maupun keterampilan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2.      Pengertian Portofolio Menurut Buku “Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013”
Portofolio adalah kumpulan tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa penilaian portofolio adalah penilaian terhadap seluruh tugas yang kerjakan peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Penilaian portofolio dapat dilakukan bersama-sama oleh guru dan peserta didik, melalui suatu diskusi untuk membahas hasil kerja peserta didik, kemudian menentukan hasil penilaian atau skor.
3.      Pengertian Portofolio Menurut Buku “Pembelajaran IPA di SD”
Asesmen portofolio adalah asesmen yang berupa kumpulan koleksi hasil kerja siswa yang disimpan dalam suatu file atau boks. Kumpulan koleksi tersebut merupakan hasil penilaian yang dilakukan dalam suatu periode tertentu. Jadi dalam asesmen portofolio tidak hanya hasil yang dinilai tetapi juga proses. Selain itu pula asesmen portofolio dapat menilai kemajuan belajar.
Dengan demikian pengertian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata.penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
Pada siswa kelas rendah, sesmen portofolio dapat diterapkan pada pebelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan imajinasi, misalkan melukis. Berbagai keterampilan yang dituntut dalam kemampuan melukis dapat diukur dalam portofolio sehingga kumpulan koleksi lukisan itu mampu menghasilkan lukisan yang baik. Beberapa keterampilan yang ada dalam melukis misalkan kemampuan membuat garis, menafsir, memberikan warna, membuat ukuran dan lain-lain. Daya imajinasi yang bersifat fiktif yang masih begitu kuat melekat pada siswa kelas rendah dapat dikembangkan dan diukur.
Melalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku/literatur, laporan penelitian, sinopsis, dan lain-lain.
Penilaian portofolio memiliki beberapa manfaat di antaranya :
1.      Penilaian portofolio dapat memberikan gambaran yang utuh tentang perkembangan kemampuan siswa. Artinya melalui penilaian portofolio, informasi yang didapatkan bukan hanya sekedar pengetahuan saja, akan tetapi juga sikap dan keterampilan.
2.      Penilaian portofolio merupakan penilaian yang autentik. Artinya, penilaian portofolio memberikan gambaran nyata tentang kemampuan siswa yang sesungguhnya. Mengapa ? sebab portofolio adalah dokumen asli yang berisi tentang sekumpulan karya siswa. Melalui dokumen itulah tergambarkan kemampuan siswa yang sesungguhnya.
3.      Penilaian portofolio merupakan teknik penilaian yang dapat mendorong siswa pada pencapaian hasil yang lebih baik dan lebih sempurna, siswa dapat belajar optimal, tanpa merasa tertekan. Hal ini dimungkinkan sebab penilaian portofolio adalah penilaian dilakukan secara terus-menerus. Setiap hasil kerja siswa dimonitor dan diberi komentar.
4.      Penilaian portofolio dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa, oleh sebab setiap respons siswa dalam proses pembelajaran diberikan reinforcement, dengan demikian siswa akan segera mengetahui kekurangan dan kelebihan dari proses pembelajaran yang dilakukannya.
5.      Penilaian portofolio dapat mendorong para orangtua siswa untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran siswa. Hal ini disebabkan setiap perkembangan siswa yang digambarkan melalui hasil kerja siswa, orang tua dimintai komentarnya.
Penilaian portopfolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini.
a.       Guru menjelasan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
b.      Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.
c.       Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau dibawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.
d.      Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
e.       Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
f.       Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.
g.      Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio

PERBEDAAN TES DENGAN PORTOFOLIO
TES
PENILAIAN PORTOFOLIO
1.      Tes biasanya dilakukan untuk menilai kemampuan intelektual siswa melalui penguasan materi pembelajaran.
·         Penilaian portofolio menilai seluruh aspek perkembangan siswa baik intelektual, minat sikap, dan keterampilan.
2.      Guru berperan sangat dominan dalam proses penilaian sedangkan siswa berperan sebagai orang yang dinilai.
·         Peserta didik terlibat dalam proses penilaian dengan menilai dirinya sendiri mengenai kemampuan beserta dalam perkembangannya.
3.      Kriteria penilaian ditentukan satu untuk semua.
·         Kriteria penilaian ditentukan sesuai dengan karakteristik siswa.
4.      Keputusan berdasarkan penilaian ditentukan sendiri oleh guru.
·         Proses penilaian beserta pengambilan keputusan dilakukan dengan cara kolaboratif antara guru, siswa, dan orang tua.
5.      Penilaian dilakukan dengan berorientasi pada pencapaian hasil belajar
·         Penilaian berorientasi pada kemajuan, usaha yang dilakukan siswa termasuk pencapaian hasil belajar.
6.      Penilaian merupakan kegiatan yang terpisah dari proses pembelajaran.
·         Penilaian merupakan bagian integral dari proses pembelajaran.
7.      Penilaian melalui tes biasanya dilakukan pada akhir program pembelajaran.
·         Penilaian portofolio dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung.

PRINSIP-PRINSIP PENILAIAN PORTOFOLIO
Dalam proses pelaksanaan evaluasi dengan sistem penilaian portofolio terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut dijelaskan dibawah ini:
1.      Saling percaya
Penilain portofolio adalah penilaian yang melibatkan siswa secara aktif sebagai pihak yang dievaluasi. Antara guru sebagai evaluator dan siswa sebagai pihak yang dievaluasi harus saling percaya. Siswa harus saling memiliki kepercayaan bahwa evaluasi yang dilakukan guru bukan semata-mata untuk menilai hasil pekerjaannya, akan tetapi sebagai upaya pemberian umpan balik untuk meningkatkan hasil belajar.
2.      Keterbukaan
Portofolio adalah penilaian yang dilaksanakan secara terbuka, artinya guru sebagai evaluator bukan hanya berperan sebagai orang yang memberikan nilai atau kritik, akan tetapi siswa yang dievaluasi perlu memahami mengapa kritik itu muncul, oleh sebab itu guru harus terbuka melalui argumentasi yang tepat dalam setiap memberikan penilaian.
3.      Kerahasian
Kerahasiaan dokumen (avidence) setiap siswa perlu dijaga. Hal itu untuk menumbuhkan kepercayaan setiap siswa. Berbagai komentar yang diberikan guru terhadap proses pembelajaran dan hasil karya siswa, biar siswa yang bersangkutan yang tahu. Hal ini untuk menjaga perasaan siswa, jangan sampai ada kesan siswa merasa direndahkan dan dipermalukan didepan teman-temannya, apalagi kalau komentar itu menyangkut kemampuan dan pribadi siswa yang bersangkutan.
4.      Milik Bersama
Guru dan peserta didik harus merasa bahwa evidence portofolio adalah milik bersama, oleh sebab itu  semua pihak harus menjaganya secara baik. Guru dan siswa perlu sepakat dimana evidence disimpan. Hal ini akan mempermudah manakala siswa atau guru memerlukannya.
5.      Kepuasan dan Kesesuaian
Hasil akhir dari penilaian portofolio adalah ketercapaian kompetensi seperti yang dirumuskan dalam kurikulum. Ketercapaian itu selanjutnya dapat dilihat dari evidence yang diorganisasikan oleh guru dan siswa. Guru dan siswa akan merasa puas manakala kompetensi itu telah tercapai. Oleh karena itu, terkumpulnya evidence merupakan kepuasan baik bagi guru maupun bagi siswa.
6.      Budaya Pembelajaran
Penilaian portofolio harus dapat mengembangkan budaya belajar. Sebab penilaian portofolio itu sendiri pada dasarnya mengandung proses pembelajaran. Bukankah unjuk kerja yang tergambarkan pada setiap evidence pada dasarnya adalah proses pembelajaran. Oleh sebab itu melalui penilaian portofolio, dalam proses pembelajaran guru tidak hanya menuntut siswa untuk menghafal sejumlah fakta atau pengetahuan tarap rendah, akan tetapi harus membelajarkan siswa pada tarap yang lebih tinggi, misalnya mengembangkan pembelajaran berpikir melalui penelaahan kasus atau pengumpulan adan penafsiran data.
7.      Refleksi
Penilaian portofolio harus memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukannya. Melalui refleksi, siswa dapat menghayati tentang proses berfikir mereka sendiri, kemampuan yang telah mereka peroleh, serta pemahaman mereka tentang kompetensi yang telah dimilikinya.
8.      Berorientasi pada proses dan hasil
Penilaian portofolio bertumpu pada dua sisi yang sama pentingnya, yakni sisi proses dan hasil belajar secara seimbang. Penilaian portofolio mengikuti setiap asfek perkembangan siswa, bagaimana cara belajar siswa, bagaimana motivasi belajar, sikap, minat, kebiasaan, dan lain sebagainya dan pada akhirnya bagaimana hasil belajar yang diperoleh siswa.
KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PENILAIAN PORTOFOLIO
Keunggulan
Kelemahan
1.      Penilaian portofolio dapat dinilai kemampuan siswa secara menyeluruh.
·         Memerlukan waktu dan kerja keras.
2.      Penilaian portofolio dapat menjamin akuntabilitas.
·         Penilaian portofolio memerlukan perubahan cara pandang.
3.      Penilaian portofolio merupakan penilaian yang bersifat individual.
·         Penilaian portofolio memerlikan perubahan gaya belajar.
4.      Penilaian portofolio merupakan penilaian yang terbuka.
·         Penilaian portofolio memerlukan perubahan sistem pembelajaran.
5.      Penilaian portofolio bersifat self evaluation.



Asesmen Dalam Ranah Kognitif
Cara-cara pelaksanaan asesmen dalam ranah kognitif dapat dibagi atas 6 bagian yaitu mempergunakan tes tertulis atau tes pensil dan kertas, mempergunakan observasi guru atas kinerja murid, mempergunakan tes gambar-gambar yang dibubuhi sedikit tulisan/kata-kata, mempergunakan jurnal murid-murid, mempergunakan peta konsep dan yang penting tidak umum dilakukan tetapi ada baiknya dicoba adalah portopolio. Selanjutnya akan dibahas cara-cara tersebut satu demi satu.
Cara yang paling umum untuk mengetahui prestasi murid sesudah proses pembelajaran adalah dengan tes tertulis atau pensil dan kertas. Meskipun aspek pengetahuan dalam ranah kognitif merupakan aspek yang paling penting mendapat penekanan, seringkali penyusunan tes tertulis yang baik untuk aspek ini mempunyai kesulitas tresendiri, oleh karena itu tidak ada salahnya jika disini dibahas dahulu oleh murid. Sebagai langkah pertama hendaknya ditentukan tujuan khusus pembelajaran, kemudian disusun bentuk tes. Bentuk tes dapat berupa pertanyaan sederhana yang memerlukan jawaban sederhana, atau yang agak rumit berbentuk pilihan ganda.
Sebagai contoh, tujuan khusus pembelajaran dalam suatu rancangan pembelajaran: murid dapat mendefinisikan istilah-istilah tehnis dengan menyebutkan sifat-sifat, hubungan, atau karakteristik sesuatu. Bentuk tesnya dapat berupa pertanyaan: “ Apakah volt itu” atau “Apakah definisi volt?” Pertanyaan sederhana ini dapat diubah menjadi tes pilihan berganda jadi: Volt adalah satuan untuk:
a. Berat
b. Usaha
c. Jarak
d. Kerja
e. Volume
Contoh lain misalnya pertanyaan: “Gelombang apakah yang dapat melalui ruang hampa udara?” Pertanyaan diatas dapat disajikan sebagai pilihan berganda sebagai berikut: Yang manakah dari gelombang-gelombang dibawah ini dapat melewati ruang hampa udara?
 a. Suara
b. Sinar
c. Elektromagnetik
d. A dan b
e. B dan c
Untuk menyusun soal-soal pilihan berganda hendaknya diingat bahwa:
1. Soal mempunyai tiga bagian yaitu masalah, perancu, jawaban yang benar.
2. Masalah merupakan pertanyaan langsung atau masalah yang keduanya mempergunakan kata-kata yang jelas. Hindari pernyataan negative.
3. Perancu (“distractor”) dan jawaban yang benar hendaknya berjumlah empat. Jawaban yang benar hendaknya satu saja. Hindari kalimat / frasa: “semua yang tertulis diatas” atau “semua yang tertulis diatas tidak benar”. Sebab frasa semacam ini akan membingungkan murid. Dan jangan member i petunjuk tak langsung kepada jawaban yang benar. Buatlah semua perancu nampak seperti mungkin.
4. Distribusikanlah jawaban-jawaban benar pada soal –soal secara acak misalnya jawaban benar pada soal nomor 1 adalah a dan jawaban benar pada soal nomor 1 adalah a jawaban benar pada soal-soal berikutnya ditentukan secara acak supaya tidak terbaca suatu pola misalnya jawaban benar selalu a atau d. pastikan selalu hanya ada satu jawaban yang benar. Dan hindarilah kata-kata mutlak misalnya: tidak pernah, selalu, dan lain-lain dan juga jangan mengulangi kata-kata dalam masalah.
Kelemahan-kelemahan tes pilihan berganda adalah”
1. Guru tidak mengetahui bagaimana caranya murid sampai pada jawaban itu.
2. Tes pilihan berganda yang baik memerlukan banyak waktu dalam penyusunannya.
3. Biasanya murid-murid tidak diminta menyelesaikan jawaban dengan kata-katanya sendiri.
4. Tes semacam ini tidak tepat untuk kelas-kelas rendah atau anak-anak tingkat bacanya rendah.
5. Tidak dapat dipakai untuk masalah-masalah lingkungan atau untuk keterampilan proses.
Disamping bentuk-bentuk tes seperti diatas, yes tertulis yang lain adalah tes berbentuk uraian. Pada umumnya tes ini berbentuk kalimat perintah; uraikanlah mengenai ……. Dan berilah contoh-contohnya! Tes tertulis mempunyai kelemahan-kelemahan sehingga sebaiknya dilengkapi dengan bentuk tes yang lain. Kelemahan-kelemahan tes tertulis adalah tidak dapat dipakai untuk mentes murid dalam ketrampilan proses IPA sebab dalam hal ini murid memperagakan/mempertunjukkan kemampuan menerapkan satu atau lebih keterampilan berdasarkan pengetahuan mereka tentang suatu konsep. Kelemahan yang lain adalah hasilnya dengan saat pembelajaran waktunya terpaut cukup jauh sehingga jika diperlukan perubahan-perbahan dalam proses pembelajaran akan terlambat jika hanya mengandalkan pada tes ini. Cara lain untuk menilai kemampuan murid adalah mempergunakan pengamatan guru. kita sebagai guru mengamati murid-murid dan menolong mereka didalam kelas.
Cara yang paling cepat untuk melaksanakan ini adalah dengan mengajukan pertanyaan dan memperhatikan jawaban murid-murid satu demi satu atau kelompok dalam kelompok. Dengan mengajukan pertanyaan yang tepat, kita sebagai guru dapat melihat apakah murid-murid memahami konsep dan proses IPA. Juga dapat dilacak melihat apakah murid-murid memahami konsep dan proses IPA. Juga dapat dilacak apakah murid mempunyai miskonsepsi dalam IPA sehingga dapat diperbaiki secara dini. Dengan memperhatikan jawaban murid-murid secara cermat kita dapat mengetahui berapa banyak yang mereka pelajari.
Untuk mengamati murid-murid secara individual mungkin mengakibatkan kita terbentur pada soal waktu, maka dapat dibuat kelompok-kelompok kecil untuk mata pelajaran IPA dan murid-murid dilatih untuk belajar dan bekerja secara kooperatif. Untuk menghindari pengamatan yang tidak menyeluruh, artinya ada murid yang terlewat dari perhatian maka sebaiknya dibuat charta untuk setiap murid baik individu maupun dalam kelompok yang diberikan tanda setiap selesai suatu konsep difahami oleh yang bersangkutan. Pengamatan gru ini dapat dipahami untuk menilai kemampuan murid dalam tingkat intelegensia rendah dan tinggi dalam taksonomi Bloom jadi tidak hanya aspek pengetahuan dan pemahaman saja, tetapi juga keempat aspek lainnya.
Kadang-kadang terjadi murid-murid yang nyata-nyata memahami knsep dalam topic dan berperan serta secara aktif didalam diskusi kelas ternyata gagal dalam tes tertulis. Dalam kasus seperti ini mungkin gambar dapat dipakai untuk menilai aspek-aspek yang lebih luas dari pada aspek pengetahuan. Klasifikasi, prinsip-prinsip dan teori-teori dapat dites mempergunakan gambar-gambar. Untuk mempersiapkan tes bergambar diperlukan latihan-latihan. Gambar-gambar dapat digunting dari majalah atau Koran, untuk ini dapat juga murid-murid membantu mengumpulkan gambar-gambar yang diperlukan. Nampak bahwa perencanaan yang matang akan membantu pelaksanaan pekerjaan ini. Perlu diingat bahwa pemilihan gambar yang komunikatif sesuai dengan kebutuhan akan sangat bermanfaat sehingga tes tidak terlalu mengandalkan kata-kata atau terlalu banyak tulisan.
Cara lain untuk menilai kamampuan murid-murid didalam IPA adalah dari buku jurnal IPA. Dalam pembelajaran IPA sebaiknya murid-murid ditugasi melukis jurnal yang berupa catatan-catatan, pengamatan selama melakukan percobaan-percobaan. Kita dapat meminta murid-murid menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam petunjuk percobaan secara tertulis. Jurnal dapat memperbaiki prestasi belajar IPA dan menulis serta Bahasa Indonesia. Murid-murid dapat diberi tugas mendefinisikan suatu konsep IPA sebelum dan sesudah pembelajaran. Dengan membandingkan tulisan-tulisan tersebut murid-murid dapat menilai dirinya sendiri apa yang mereka dapatkan selama pembelajaran. Menulis kreatif berdasarkan jurnalpun dapat dipakai untuk menilai prestasi belajar mereka. Misalnya seorang murid hendak menulis fiksi tentang kunjungan ke planet lain maka anjurkanlah mempergunakan istilah-istilah yang dipelajari secara tepat antara lain: gravitasi nol orbit, percepatan dan lain-lain. Menulis kreatif hendaknya dihubungkan dengan konsep yang dipelajari. Bentuk tugas-tugas penulisan lainnya misalnya: membuat ringkasan dari apa yang dipelajari, member pendapat, dan mempertahankan pendapatnya. Menyusun suatu wawancara mengenai maslah lingkungan merupakan alternative lain. Setiap tulisan dinilai dari kejelasan, logika dan kelengkapan, serta penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Yang terpenting adalah murid dapat melihat kemajuan dirinya sendiri melalui penulisan tersebut.
 Peta konsep juga dapat dipakai untuk pengetahuan konseptual murid-murid. Peta konsep adalah alat bantu mengajar agar murid-murid membangun pengetahuan yang saling berhubungan dan pemahaman-pemahaman agar terjadi schemata yang berguna.

KESIMPULAN
Assesment Autentik adalah pengukuran yang bermakna signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap,keterampilan dan pengetahuan. Assessment authentic sendiri memiliki hubungan dengan kurikulum 2013 dengan tuntutan kurikulum2013  assesment mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik .
Kata lain dari assessment autentik adalah penilaian kinerja,portofolio,dan penilaian proyek.Dalam pendidikan sangat lah penting adanya assessment autentik atau penilaian sebenarnya karena dengan adanya penialian yang sebenarnya ilmu pengetahuan hasil dari proses pembalejaran akan tampak berguna atau tidak bagi peserta didik .


DAFTAR PUSTAKA
Samatowa,Usman.2010. Pembelajaran Ipa di Sekolah Dasar.Jakarta:indeks
Sagala,Syaiful.2009. Konsep Dan Makna Pembelajaran.Bandung: Alfabeta
Srini M. Iskandar  : Pendidikan Ilmu Pengetahuan : Rabu, 15 Oktober  2014: pukul 20:40
Drs.H.Usman Samatowa,M.Pd : Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar: Sabtu,20 Sepptember 2014: pukul 20:09
Iskandar,Srini M dan Eddy M hidayat.1996/1997. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Departermen Pendidikan Dan Kebudayaan Dikrektroat Jendral Pendidikan Tinggi
Sanjaya,Wina.2005.Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.Jakarta :Kencana
Mulyasa, Muhammad.2013.Pengembangan Dan Implementasi Kurikulum 2013 Bandung: Remaja Rosdakarya.