ASSESMENT AUTENTIK
a. Definisi Dan Makna Asesmen Autentik
Penilaian
(assesment) adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur
pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian autentik merupakan
penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan
(input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran, yang meliputi ranah sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian autentik menilai kesiapan peserta
didik, serta proses dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga
komponen (input – proses – output) tersebut akan menggambarkan kapasitas, gaya,
dan hasil belajar peserta didik, bahkan mampu menghasilkan dampak instruksional
(instructional effects) dan dampak pengiring (nurturant effects) dari
pembelajaran.
Wiggins
(dalam Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013,2013) mendefinisikan
penilaian autentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang
mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktivitas-aktivitas
pembelajaran, seperti meneliti, menulis, merevisi dan membahas artikel,
memberikan analisis oral terhadap peristiwa, berkolaborasi dengan antarsesama
melalui debat, dan sebagainya. Penilaian autentik memiliki
relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah (scientific approach) , karena
penilaian semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta
didik, baik dalam rangka mengobservasi, menanya, menalar, mencoba, dan
membangun jejaring. Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas
kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan
kompetensi mereka yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Asesmen autentik adalah suatu proses evaluasi yang melibatkan berbagai bentuk
pengukuran terhadap kinerja yang mencerminkan pembelajaran
siswa, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap pada aktifitas yang relevan dalam
pembelajaran (American Librabry Association, Dalam Syofiana, 2010).
Senada dengan pendapat tersebut, O’malley dan Pierce (Dalam Anonim, tt)
mengatakan bahwa asesmen otentik adalah bentuk penilaian yang menunjukkan
pembelajaran siswa yang berupa pencapaian, motivasi, dan sikap yang relevan
dalam aktivitas kelas. Sedangkan menurut Newton Public Schools (Dalam Syofiana,
2010) Asesmen otentik merupakan
penilaian terhadap produk-produk dan kinerja yang berhubungan dengan
pengalaman-pengalaman kehidupan nyata peserta didik. Berdasarkan beberapa
pengertian tentang asesmen otentik yang telah dikemukkan oleh para ahli di atas
dapat disimpulkan bahwa asesmen otentik merupakan suatu proses evaluasi yang
melibatkan berbagai bentuk pengukuran yang berupa produk-produk dan kinerja
yang mencerminkan pembelajaran siswa, pencapaian, prestasi, motivasi, dan
sikap-sikap peserta didik pada aktifitas yang relevan dalam
pembelajaran di kelas. Asesmen otentik memberikan siswa seperangkat tugas yang
mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktifitas-aktifitas
pengajaran: melakukan penelitian; menulis, merevisi dan membahas artikel;
memberikan analisa oral terhadap peristiwa politik terbaru; berkolaborasi
dengan siswa lain melalui debat, dan
sebagainya. Melalui asesmen otentik, siswa lebih terlibat dalam tugas dan
guru dapat lebih yakin bahwa asesmen yang diberikannya itu bermakna dan relevan
(Wiggins, Dalam Syofiana, 2010).
Asesmen otentik sering digambarkan
sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada
kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek.
Asesmen otentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan
apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka
menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu
menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya . Atas dasar
itu, guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan
untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan. Maka dari itu asesmen
otentik harus menjadi bagian integral dari pengajaran, sehingga dengan demikian
penilaian tidak digunakan hanya sebagai suatu alat untuk mengumpulkan data
sebagaimana dalam paradigm lama, tetapi juga untuk mempengaruhi pengajaran. Ini
memerlukan penerapan dan pengembangan fungsi penilaian yang mengukur
produktivitas siswa, pencapaian mereka dalam pembelajaran kemampuan
berpikir matematis dalam mendapat suatu hasil yang berarti bagi siswa tersebut.
Penilaian autentik mempunyai karakter pokok yang sama dengan pengajaran,
yang berguna bagi para guru untuk meningkatkan pengajaran. Dalam penilaian
autentik diharapkan para siswa dapat merumuskan permasalahan, memikirkan
solusi, dan menginterpretasikan hasil.
B. Asesmen Autentik dan
Tuntutan Kurikulum 2013
Asesmen
autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran
sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013. karena, asesmen semacam ini mampu
menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik , baik dalam rangka
mengobservasi , menalar , mencoba , membangun jejaring dan lain –lain . Asesmen
autentik cenderung fokus pada tugas – tugas kompleks atau kontestual ,
memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan
yang lebih autentik , karena nya asesmen autentik sangat relevan dengan
pendekatan tematik terpadu dalam pembelajaran , khusus nya jenjang sekolah
dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai .kata lain dari asesmmen autentik
adalah penilaian kinerja, portofolio , dan penilaian proyek . Asesemen autentik
adakalanya disebut penilaian responsif , suatu metode yang sangat populer untuk
menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang memiliki ciri khusus.
Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta
didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana
belajar tentang subjek . asesmen autentik harus mampu menggambar kan sikap , keterampilan , dan
pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik ,bagaimana
mereka menerapkan perolehan belajar,dan sebagainya atas dasar itu guru dapat mengidentivikasi
materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan
remedial harus dilakukan .
c. Penilaian
sebenarnya (autentik assessment)
dan belajar autentik
Assessment adalah proses pengumpulan
berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa .
gambaran perkembangan belajar siswa perlu di ketahui oleh guru agar bisa
memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data
yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam
belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa
terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu
di perlukan di sepanjang proses pembelajaran maka assessment tidak di lakukan
di akhir periode seperti akhir semester.
Pembelajaran seperti pada kegiatan
evaluasi hasil belajar seperti formatif dan sumatif, tetapi dilakukan bersama
dengan cara terintegrasi yaitu tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran yang benar seharusnya di tekankan pada upaya membantu siswa agar
mampu mempelajari (learning how to learn), bukan di tekankan pada diperolehnya
sebanyak mungkin informasi di akhir periode di akhir pemblajaran. Karena
assessment menekankan pada proses pembelajaran, maka data yang di kumpulkan
harus di peroleh dari kegiatan nyata yang di kerjakan siswa pada saat melakukan
proses pembelajaran. Misalnya guru yang ingin mengatahui perkembangan belajar
bahasa inggris misalnya bagi para siswanya harus mengumpulkan data dari
kegiatan nyata saat para siswa menggunakan bahasa inggris bukan pada saat para
siswa mengerjakan test bahasa inggris. Data yang di ambil dari kegiatan para
siswa saat siswa melakukan kegiatan berbahasa inggris baik dalam kelas maupun
di luar kelas itulah yang di sebut data autentik
Karakteristik
assessment autentik adalah
1. Dilaksanakan
selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung .
2. Bisa
di gunakan untuk formatif maupun sumatif.
3. Yang
di ukur keterampilan dan performansi bukan hanya mengingat fakta.
4. Berkesinambungan
5. Terintegrasi.
6. Dapat
di gunakan sebagai feedback.
Dengan
demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya di tekankan pada upaya
membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan di
tekankan pada di perolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode
pembelajaran. ( Depdiknas, 2003:10)
Asesmen Kinerja
Asesmen
kinerja adalah asesman yang menekankan pada apa yang dapat dikerjakan oleh
siswa dalam bentuk kinerja, dari pada apa yang dapat dijawab oleh siswa.
Asesmen kinerja merupakan bentuk asesmen alternatif atas kelemahan tes baku
atau tes kertas pensil. Bentuk asesmen kinerja dapat berupa tugas (task),
kreteria penilaian (rubric) dan bentuk non-tes.
Asesmen
kinerja dapat diterapkan dikelas rendah dan dikelas tinggi misalnya kemampuan
menulis. Pada kelas rendah misalnya kelas satu SD kemampuan menulis yang
dimaksud adalah kemampuan membuat tulisan tangan. Kemampuan ini dapat mengkur
prosedur dan hasil tulisan tangan. Alat yang dapat digunakan misalnya rating
scale. Contoh rating scale yang digunakan untuk mengukur kemampuan menulis
siswa kelas satu SD.
|
No
|
Aspek yang
diukur
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
1
2
3
4
5
|
Cara
memegang pensil
Posisi duduk
waktu menulis
Posisi tangan
terhadap kertas
Letak kertas
yang akan ditulis
Jarak mata
dari kertas/meja
|
|
|
|
|
|
|
6
7
8
9
10
|
Bentuk huruf
Cara
merangkai huruf
Kejelasan
tulisan
Keindahan
tulisan
Kebenaran
tulisan
|
|
|
|
|
|
Untuk
kelas tinggi kemampuan menulis bukan ditekankan pada kemampuan menulis huruf.
Kemampuan menulis pada siswa kelas tinggi dapat diterapkan pada asesmen kinerja
dalam bentuk membuat tugas karangan. Kemampuan mengarang dapat menunjukkan
kemampuan siswa dalam berpikir abstrak. Kemampuan dapat dinilai dari sebuah karangan
misalnya kemampuan mengungkapkan gagasan, kemampuan merangkai kata, kemampuan
merangkai kalimat dalam satu gagasan dan kemampuan lainnya.
Fungsi Asesmen Kinerja dalam
Pembelajaran
Asesmen
merupakan bagian yang penting dalam proses pembelajaran didalam bidang studi
apapun. Asesmen hendaknya dibedakan dari pengukuran prestasi belajar.
Pengukuran prestasi belajar menyangkut pengumpulan informasi tentang prestasi
murid-murid melalui tes dan lembar kerja, seangkan asesmen merupakan konsep
yang lebih luas mencakup penilaian profesional pendidik, perasaan dan
pengamatan, serta informasi-informasi lain yang anda kumpulkan dari lingkungan
belajar.
Fungsi
asesmen dibagi atas 4 bagian, yaitu:
1. Sebagai
alat untuk merencanakan, pedoman, dan memperkaya pembelajaran IPA dikelas.
2. Sebagai
alat komunikasi dengan murid-murid, administrator dan orang tua murid, tentang
pentingnya IPA.
3. Sebagai
alat untuk memonitor hasil belajar IPA dan perbaikan pembelajaran.
4. Sebagai
alat untuk memperbaiki kurikulum dan pengajaran IPA.
Jenis-jenis asesmen menurut tujuan
Ada
tiga jenis asesmen menurut tujuan asesmen yaitu tujuan diagnostik, tujuan
formatif, dan tujuan sumatif. Asesmen diagnostik diberikan sebelum memulai
mengeksplorasi suatu topik. Gunanya untuk hal-hal apa yang belum diketahui
murid, dan hal-hal apa saja yang diketahui murid secara salah atau dengan
perkataan lain untuk melacak miskonsepsi IPA secara dini.
Asesmen
formatif dilangsungkan selama pembelajaran untuk mengetahui apa saja yang
dipelajari murid-murid, juga untuk mendapat balikan dari murid-murid apakah
perlu mengadakan modifikasi metode pembelajaran atau rancangan pelajaran.aesmen
formatif juga memberikan balikan dalam bimbingan kepada murid-murid dalam
menyelesaikan tugasnya.
Asesmen
formatif ilangsungkan sesudah proses pembelajaran selesai. Kegunaan asesmen
sumatif adalah untuk menilai berupa banyak yang dapat diserap oleh murid-murid
dan untuk mendapatkan nilai akhir murid-murid. Padal tabel 3 berikut :
|
Jenis asesmen
|
Saat asesmen
|
Alasan asesmen
|
Cara pelaksanaan asesmen
|
|
Diagnostik
Formatif
Sumatif
|
Sebelum pembelajaran
Selama pembelajaran
Setelah pembelajaran
|
Mendeteksi kebutuhan murid,
dan apa-apa yang sudh dan apa-apa yang belum diketahui murid.
Untuk mendapatkan balikan
segera untuk memodifikasi pembelajaran konsep, atau membimbing murid dalam
menyelesaikan tugas.
Terutama untuk mengumpulkan
nilai, mengases berapa banyak yang diserap murid
|
Empat cara :
1.
Tes tertulis (tes
pensil & kertas)
2.
Laporan tertulis
proyek yang dikerjakan murid
3.
Portofolio
4.
Observasi guru dan
kinerja murid
|
Ada beberapa cara
berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja, yaitu :
a.
Daftar cek (checklist).
Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator
atau subindikator yang harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan.
b. Catatan
anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Digunakan dengan cara guru menulis
laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik
selama melakukan tindakan. Dari laporan tersebut, guru dapat menentukan
seberapa baik peserta didik memenuhi standar yng diterapkan.
c. Skala
penilaian (rating scale). Digunakan dengan menggunakan skala numerik. Misalnya
5 = baik sekali, 4 = baik, 3 = cukup, 2
= kurang, 1 = kurang sekali.
d. Memory
atau ingatan (memory aproach). Digunakan oleh guru dengan cara mengamati
peserta didik ketika melakukan sesuatu, dengan tanpa membuat catatan. Guru
menggunakan informasi dari memorynya untuk menentukan apakah peserta didik sudah
berhasil atau belum.
Penilaian
diri (self assesment) termasuk dalam rumpun penilaian kinerja. Penilaian diri
merupakan suatu teknik penilaian dimana pesserta didik diminta untuk menilai
dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian
kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. Teknik penilaian
diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif, dan
psikomotorik.
§ Penilaian
ranah sikap. Misalnya, peserta didik diminta mengungkapkan curahan perasaannya
terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kreteria atau acuan yang telah
disiapkan.
§ Penilaian
ranah keterampilan. Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai kecakapan
atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan kreteria atau
acuan yang telah disiapkan.
§ Penilaian
ranah pengetahuan. Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai penguasaan
pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari suatu mata
pelajaran tertentu berdasarkan atas kreteria atau acuan yang telah disiapkan.
a. Pengertian
Penilaian Proyek
Informasi hasil penilaian yang
diperoleh dapat dijadikan sebagai pertimbangan bagi sekolah untuk menyusun
berbagai program pendidikan di sekolah untuk masa yang akan datang. Salah satu
teknik yang digunakan adalah penilaian Proyek. Penilaian proyek merupakan
penilaian untuk mendapatkan gambaran kemampuan menyeluruh/umum secara
kontekstual, mengenai kemampuan siswa dalam menerapkan konsep dan pemahaman mata pelajaran tertentu. Penialaian ini dilakukan
dengan memberikan tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu
tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan,
pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian
data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman,kemampuan
pada mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan
peserta didik mata pelajaran tertentu secara jelas. Dalam penilaian proyek
setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan yaitu:
1.
Kemampuan
pengelolaan
Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan
mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
2.
Relevansi
Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap
pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.
3.
Keaslian
Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan
mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek
peserta didik.
b. Teknik Penilaian Proyek
Penilaian proyek ini, penialainnya ditekankan pada proses dan produk kerja
yang dilakukan oleh siswa.
Penilaian yang menekankan pada proses, bertujuan melihat kemampuan siswa
dalam merencanakan dan mengorganisir tugas-tugasnya serta mendorong siswa untuk
bekerjasama dengan siswa yang lain sehingga terbangun kebersamaan (Team Work).
Kerja sama dalam kelas merupakan proses belajar dua arah. Anak yang belajar dan
mengajari sama-sama belajar untuk memahami suatu hal, dengan ini akan tumbuh
rasa solidaritas di antara teman dan anak juga peduli dengan teman yang lain.
Langkah yang perlu dilakukan dalam penilaian proyek yang berfokus pada
proses yaitu :
1.
Merencanakan penilaian
·
Hal ini bertujuan melihat
kesesuiannya dengan kompetensi yang dituntut kurikulum, misal:
1.
Kerja ilmiah : Kerja ilmiah merupakan kerja yang dilakukan menurut teori-teori
ilmiah, dalam SD/MI biasanya menggunakan teori-teori sederhana yang mudah
diterapkan oleh siswa.
2. Berpikir dan bekerja
sistematik : artinya siswa dapat menerapakan pengetahuannya dengan baik sesuai
dengan langkah-langkah yang harus dilakukan tahap demi tahap.
3. Menggunakan alat sains :
misalnya mengamati (observasi) dengan menggunakan alat sains seperti LUV,
mikroskop, dan lain-lain.
4.
Kerja matematik : merupakan keterampilan menghitung, untuk melatih logika
mereka. Siswa dapat dilatih menghitung dengan sederhana, misalnya menghitung
kelereng, batu kerikil, rumah dan lain-lain. Semakin tinggi tingkat sekolah
anak, semakin sulit soal-soal menghitung yang ditugaskan kepadanya.
5. Mengumpulkan data : adalah
kemampuan mengumpulkan data merupakan hal yang penting
dalam penialain proyek karena dengan keterampilan ini siswa akan
mengetahui data-data yang dibutuhkan dalam penelitian mininya.
·
Dapat dikelola, karena siswa yang
akan dinilai siswa SD/MI maka topik yang diberikan guru hendaknya topik tidak
terlalu luas dan tidak terlalu sempit, tidak terlalu mudah dan tidak terlalu
sulit. Penentuan topik ini dilakukan oleh guru.
2.Merancang
spesifikasi proyek yang berfokus pada proses
Yang harus dilakukan adalah :
a. Memilih topik, topik yang dipilih
tentunya berkaitan dengan kebutuhan siswa maupun kemampuan siswa dan terdapat
dalam komptensi dasar (KD), dapat dipilih oleh siswa dari topik-topik
yang disediakan guru.
b. Memetakan area yang akan
dicakup (dapat ditempuh dgn curah pendapat)
Contohnya sebagai berikut :
Penilaian proyek dilakukan mulai
dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir proyek. Untuk itu, guru
perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan
desain, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan tertulis.
Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster.
Pelaksanaan penilaian dapat
menggunakan alat/instrument penilaian berupa daftar cek ataupun skala
penilaian. Beberapa contoh kegiatan peserta didik dalam penilaian proyek:
Tugas : Lakukan penelitian sederhana
tentang kandungan yudium dalam garam yang beredar di masyarakat .
Selanjutnya penilaian yang berfokus
pada produk, langkah-langkah yang harus dilakukan ialah :
1.
Merencanakan penilaian, rencana
penilaian hendaknya menerapkan langkah-langkah sebagai berikut :
·
Melihat kesesuiannya dengan
kompetensi yang dituntut kurikulum, misal:
a.
Pengumpulan informasi khusus
b.
Interpretasi data
c.
Memaparkan hasil/laporan
·
Dapat dikelola
2.
Merancang spesifikasi proyek yang
berfokus pada produk :
ü Ditentukan
lingkup dan cara pengumpulan data
ü Ditentukan
cara presentasi/pelaporannya
ü Ditentukan
dan dikomunikasikan kriteria penilaiannya (misal: 20% untuk proses, 80%
untuk produk yg terbagi 50% untuk isi laporan, 30 % penyajian
laporan)
c. Pencatatan
Penilaian Proyek
Penilaian
proyek dapat dicatat dengan tiga cara :
- Holystic rating
Penilaian
Proyek oleh Siswa
Contohnya :
5
: sangat bagus, komentar ….
4
:
bagus,
komentar ….
3
: sedang,
komentar …
2
: kurang,
komentar …
1
: sangat kurang, komentar …
0
: tdk memenuhi, komentar …
- Analytic rating
Nama:…………………….
Kerja Praktik
1.
Penggunaan bahasa dan simbol statistik
dengan benar (3 poin) _____
Komentar: …….
2.
Membuat tabel dan grafik dengan
benar (3 poin) ___
Komentar: ……
3.
Benar dlm penghitungan statistik (3
poin) __
Komentar: …………………..
4.
Benar dlm memilih bentuk tabel,
grafik, dan penyimpulan statistik (3 poin) ___
Komentar: ………
5.
Deskripsi dan interpretasi data
masuk akal (3 poin) ….
Komentar: ……
6.
Penyimpulan memadai (3 poin) ……………
TOTAL SKOR (18 POIN) …………
- Analytic cheklist
Contoh analitic checklist
ABSTRAK/RINGKASAN
1.
Ada pernyataan singkat menginformasikan ke pembaca
(ya/mgk/tdk)
2.
Pernyataan mengindikasikan bidang tertentu
(ya/mgk/tdk)
3.
Menyebutkan metodologi yg digunakan (ya/mgk/tdk)
4.
Pernyataan menggambarkan titik tolak pembicaraan
dan penyimpulan
5.
Apakah sesuai dengan bahan yg digunakan (ya/mgk/tdk)
PENDAHULUAN
1.
Pokok persoalan diperkenalkan (ya/mgk/tdk)
2.
Problem/data/investigasi sesuai konteks (ya/mgk/tdk)
3.
Ada eviden ttg perencanaan? Jika ya, apakah
perencanaan itu diikuti (ya/mgk/tdk)
4.
Siswa mengetahui hakikat penelitian (ya/mgk/tdk)
ISI
1.
Isi logis, argumennya masuk akal (ya/mgk/tdk)
2.
Apakah penghitungan/analisis benar (ya/mgk/tdk)
3.
Analisis yang digunakan memenuhi standar (ya/mgk/tdk)
4.
Penentuan keputusan / hasil / pembandingan /
mempertentangkan / kritik / generalisasi benar (ya/mgk/tdk)
5.
Tetap/tidak melenceng dari gagasan awal (ya/mgk/tdk)
6.
Proyek sesuai dengan rancangan semula (ya/mgk/tdk)
7.
Siswa memahami dan bertindak sesuai dgn advis
supervisor (ya/mgk/tdk)
8.
Apakah kerangka penelitian original (ya/mgk/tdk)
9.
Apakah siswa mempelajari hal yg baru (matematik,
aplikasi program, teknik (ya/mgk/tdk)
10. Apakah ini
karya asli siswa (ya/mgk/tdk)
d. Pelaporan
Contoh:
Tahap 1 Guru menggunakan 7 kriteria
dalam 6 skala
1. Presentasi
tugas ( 1 2 3 4 5 6 7)
2. Penggunaan
referensi ( 1 2 3 4 5 6 7 )
3. Uraian ( 1 2 3
4 5 6 7 )
4. Kedalaman
penelitian ( 1 2 3 4 5 6 7 )
5. Pemahaman pada
persoalan (1 2 3 4 5 6 7 )
6. Analisis,
interpretasi akurat ( 1 2 3 4 5 6 7 )
7. Pemilihan
visualisasi memadai ( 1 2 3 4 5 6 7 )
Tahap ke 2:
guru menentukan level pencapaian A – E
A : Siswa menghasilkan penelitian
luar biasa
B : Siswa menghasilkan penelitian
sgt bagus
C : Siswa menghasilkan penelitian
bagus
D : Siswa menghasilkan penelitian
kurang
E : Siswa menghasilkan penelitian
sangat kurang
Contoh lembar spesifikasi
pengumpulan data
Nama……………………..
KERANGKA PROPOSAL
Lingkup minat: ……………………………
Kemungkinan judul:
…………………………
Tujuan studi:
…………………………………….
STRATEGI
KERJA
Hipotesis
kerja/tujuan/model……..
Pengumpulan dan sumber
data……
SUMBER DAN BATASAN
Lokasi
studi :…….
Alat dan bahan :……..
Biaya :…………
Waktu :…………….
Keterampilan :…..
Antisipasi Problem :………
BATAS
STUDI
PRESENTASI
Penelitian berakhir pada……………
A4 dlm file terjilid
Draf pertama selesai
pada………… Ringkasan 50 kata, daftar isi
Penyerahan terakhir
pada………… 1500-2000 kata, tidak termasuk
diagram
dan peta
PENILAIAN PORTOFOLIO
1.
Pengertian Portofolio
Menurut Buku “Pembelajaran dalam Implementasi KURIKULUM Berbasis KOMPETENSIi”
Portofolio
dapat diartikan sebagai kumpulan karya siswa yang disusun secara sistematis dan
terorganisir sebagai hasil dari usaha pembelajaran yang telah dilakukannya
dalam kurun waktu tertentu. Melalui hasil karya tersebut guru dapat melihat
perkembangan kemampuan siswa baik dalam aspek pengetahuan, sikap maupun
keterampilan sebagai bahan penilaian. Hasil karya yang dihasilkan bisa hasil
karya yang dikerjakan didalam kelas (artifacts), atau bisa juga hasil kerja
siswa yang dilakukan diluar kelas (reproduction). Hasil karya siswa itu
kemudian dinamakan evidence. Melalui evidenci inilah, siswa dapat
mendemonstrasikan unjuk kerja kepada orang lain baik tentang pengetahuan, sikap
maupun keterampilan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Pengertian
Portofolio Menurut Buku “Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013”
Portofolio
adalah kumpulan tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik. Dengan demikian, dapat
dikemukakan bahwa penilaian portofolio adalah penilaian terhadap seluruh tugas
yang kerjakan peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Penilaian portofolio
dapat dilakukan bersama-sama oleh guru dan peserta didik, melalui suatu diskusi
untuk membahas hasil kerja peserta didik, kemudian menentukan hasil penilaian
atau skor.
3. Pengertian
Portofolio Menurut Buku “Pembelajaran IPA di SD”
Asesmen
portofolio adalah asesmen yang berupa kumpulan koleksi hasil kerja siswa yang
disimpan dalam suatu file atau boks. Kumpulan koleksi tersebut merupakan hasil
penilaian yang dilakukan dalam suatu periode tertentu. Jadi dalam asesmen
portofolio tidak hanya hasil yang dinilai tetapi juga proses. Selain itu pula
asesmen portofolio dapat menilai kemajuan belajar.
Dengan
demikian pengertian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang
menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia
nyata.penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara
perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta
didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
Pada
siswa kelas rendah, sesmen portofolio dapat diterapkan pada pebelajaran yang
dapat mengembangkan keterampilan imajinasi, misalkan melukis. Berbagai keterampilan
yang dituntut dalam kemampuan melukis dapat diukur dalam portofolio sehingga
kumpulan koleksi lukisan itu mampu menghasilkan lukisan yang baik. Beberapa
keterampilan yang ada dalam melukis misalkan kemampuan membuat garis, menafsir,
memberikan warna, membuat ukuran dan lain-lain. Daya imajinasi yang bersifat
fiktif yang masih begitu kuat melekat pada siswa kelas rendah dapat
dikembangkan dan diukur.
Melalui
penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar
peserta didik. Misalnya, hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat
karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi
buku/literatur, laporan penelitian, sinopsis, dan lain-lain.
Penilaian
portofolio memiliki beberapa manfaat di antaranya :
1. Penilaian
portofolio dapat memberikan gambaran yang utuh tentang perkembangan kemampuan
siswa. Artinya melalui penilaian portofolio, informasi yang didapatkan bukan
hanya sekedar pengetahuan saja, akan tetapi juga sikap dan keterampilan.
2. Penilaian
portofolio merupakan penilaian yang autentik. Artinya, penilaian portofolio
memberikan gambaran nyata tentang kemampuan siswa yang sesungguhnya. Mengapa ?
sebab portofolio adalah dokumen asli yang berisi tentang sekumpulan karya
siswa. Melalui dokumen itulah tergambarkan kemampuan siswa yang sesungguhnya.
3. Penilaian
portofolio merupakan teknik penilaian yang dapat mendorong siswa pada
pencapaian hasil yang lebih baik dan lebih sempurna, siswa dapat belajar
optimal, tanpa merasa tertekan. Hal ini dimungkinkan sebab penilaian portofolio
adalah penilaian dilakukan secara terus-menerus. Setiap hasil kerja siswa
dimonitor dan diberi komentar.
4. Penilaian
portofolio dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa, oleh sebab setiap respons
siswa dalam proses pembelajaran diberikan reinforcement, dengan demikian siswa
akan segera mengetahui kekurangan dan kelebihan dari proses pembelajaran yang
dilakukannya.
5. Penilaian
portofolio dapat mendorong para orangtua siswa untuk aktif terlibat dalam
proses pembelajaran siswa. Hal ini disebabkan setiap perkembangan siswa yang
digambarkan melalui hasil kerja siswa, orang tua dimintai komentarnya.
Penilaian
portopfolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini.
a. Guru
menjelasan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
b. Guru
atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.
c. Peserta
didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau dibawah bimbingan guru
menyusun portofolio pembelajaran.
d. Guru
menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai,
disertai catatan tanggal pengumpulannya.
e. Guru
menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
f. Jika
memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio
yang dihasilkan.
g. Guru
memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio
PERBEDAAN TES DENGAN PORTOFOLIO
|
TES
|
PENILAIAN PORTOFOLIO
|
|
1. Tes
biasanya dilakukan untuk menilai kemampuan intelektual siswa melalui
penguasan materi pembelajaran.
|
·
Penilaian portofolio
menilai seluruh aspek perkembangan siswa baik intelektual, minat sikap, dan
keterampilan.
|
|
2. Guru
berperan sangat dominan dalam proses penilaian sedangkan siswa berperan
sebagai orang yang dinilai.
|
·
Peserta didik
terlibat dalam proses penilaian dengan menilai dirinya sendiri mengenai kemampuan
beserta dalam perkembangannya.
|
|
3. Kriteria
penilaian ditentukan satu untuk semua.
|
·
Kriteria penilaian
ditentukan sesuai dengan karakteristik siswa.
|
|
4. Keputusan
berdasarkan penilaian ditentukan sendiri oleh guru.
|
·
Proses penilaian
beserta pengambilan keputusan dilakukan dengan cara kolaboratif antara guru,
siswa, dan orang tua.
|
|
5. Penilaian
dilakukan dengan berorientasi pada pencapaian hasil belajar
|
·
Penilaian
berorientasi pada kemajuan, usaha yang dilakukan siswa termasuk pencapaian
hasil belajar.
|
|
6. Penilaian
merupakan kegiatan yang terpisah dari proses pembelajaran.
|
·
Penilaian merupakan
bagian integral dari proses pembelajaran.
|
|
7. Penilaian
melalui tes biasanya dilakukan pada akhir program pembelajaran.
|
·
Penilaian portofolio
dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung.
|
PRINSIP-PRINSIP PENILAIAN
PORTOFOLIO
Dalam
proses pelaksanaan evaluasi dengan sistem penilaian portofolio terdapat
beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut dijelaskan
dibawah ini:
1. Saling
percaya
Penilain
portofolio adalah penilaian yang melibatkan siswa secara aktif sebagai pihak
yang dievaluasi. Antara guru sebagai evaluator dan siswa sebagai pihak yang
dievaluasi harus saling percaya. Siswa harus saling memiliki kepercayaan bahwa
evaluasi yang dilakukan guru bukan semata-mata untuk menilai hasil
pekerjaannya, akan tetapi sebagai upaya pemberian umpan balik untuk
meningkatkan hasil belajar.
2. Keterbukaan
Portofolio
adalah penilaian yang dilaksanakan secara terbuka, artinya guru sebagai
evaluator bukan hanya berperan sebagai orang yang memberikan nilai atau kritik,
akan tetapi siswa yang dievaluasi perlu memahami mengapa kritik itu muncul,
oleh sebab itu guru harus terbuka melalui argumentasi yang tepat dalam setiap
memberikan penilaian.
3. Kerahasian
Kerahasiaan
dokumen (avidence) setiap siswa perlu dijaga. Hal itu untuk menumbuhkan
kepercayaan setiap siswa. Berbagai komentar yang diberikan guru terhadap proses
pembelajaran dan hasil karya siswa, biar siswa yang bersangkutan yang tahu. Hal
ini untuk menjaga perasaan siswa, jangan sampai ada kesan siswa merasa
direndahkan dan dipermalukan didepan teman-temannya, apalagi kalau komentar itu
menyangkut kemampuan dan pribadi siswa yang bersangkutan.
4. Milik
Bersama
Guru
dan peserta didik harus merasa bahwa evidence portofolio adalah milik bersama,
oleh sebab itu semua pihak harus
menjaganya secara baik. Guru dan siswa perlu sepakat dimana evidence disimpan.
Hal ini akan mempermudah manakala siswa atau guru memerlukannya.
5. Kepuasan
dan Kesesuaian
Hasil
akhir dari penilaian portofolio adalah ketercapaian kompetensi seperti yang
dirumuskan dalam kurikulum. Ketercapaian itu selanjutnya dapat dilihat dari
evidence yang diorganisasikan oleh guru dan siswa. Guru dan siswa akan merasa
puas manakala kompetensi itu telah tercapai. Oleh karena itu, terkumpulnya
evidence merupakan kepuasan baik bagi guru maupun bagi siswa.
6. Budaya
Pembelajaran
Penilaian
portofolio harus dapat mengembangkan budaya belajar. Sebab penilaian portofolio
itu sendiri pada dasarnya mengandung proses pembelajaran. Bukankah unjuk kerja
yang tergambarkan pada setiap evidence pada dasarnya adalah proses
pembelajaran. Oleh sebab itu melalui penilaian portofolio, dalam proses
pembelajaran guru tidak hanya menuntut siswa untuk menghafal sejumlah fakta
atau pengetahuan tarap rendah, akan tetapi harus membelajarkan siswa pada tarap
yang lebih tinggi, misalnya mengembangkan pembelajaran berpikir melalui
penelaahan kasus atau pengumpulan adan penafsiran data.
7. Refleksi
Penilaian
portofolio harus memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk melakukan
refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukannya. Melalui refleksi,
siswa dapat menghayati tentang proses berfikir mereka sendiri, kemampuan yang
telah mereka peroleh, serta pemahaman mereka tentang kompetensi yang telah
dimilikinya.
8. Berorientasi
pada proses dan hasil
Penilaian
portofolio bertumpu pada dua sisi yang sama pentingnya, yakni sisi proses dan
hasil belajar secara seimbang. Penilaian portofolio mengikuti setiap asfek
perkembangan siswa, bagaimana cara belajar siswa, bagaimana motivasi belajar,
sikap, minat, kebiasaan, dan lain sebagainya dan pada akhirnya bagaimana hasil
belajar yang diperoleh siswa.
KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PENILAIAN
PORTOFOLIO
|
Keunggulan
|
Kelemahan
|
|
1. Penilaian
portofolio dapat dinilai kemampuan siswa secara menyeluruh.
|
·
Memerlukan waktu dan
kerja keras.
|
|
2. Penilaian
portofolio dapat menjamin akuntabilitas.
|
·
Penilaian portofolio
memerlukan perubahan cara pandang.
|
|
3. Penilaian
portofolio merupakan penilaian yang bersifat individual.
|
·
Penilaian portofolio
memerlikan perubahan gaya belajar.
|
|
4. Penilaian
portofolio merupakan penilaian yang terbuka.
|
·
Penilaian portofolio
memerlukan perubahan sistem pembelajaran.
|
|
5. Penilaian
portofolio bersifat self evaluation.
|
|
Asesmen Dalam Ranah Kognitif
Cara-cara pelaksanaan
asesmen dalam ranah kognitif dapat dibagi atas 6 bagian yaitu mempergunakan tes
tertulis atau tes pensil dan kertas, mempergunakan observasi guru atas kinerja
murid, mempergunakan tes gambar-gambar yang dibubuhi sedikit tulisan/kata-kata,
mempergunakan jurnal murid-murid, mempergunakan peta konsep dan yang penting
tidak umum dilakukan tetapi ada baiknya dicoba adalah portopolio. Selanjutnya
akan dibahas cara-cara tersebut satu demi satu.
Cara yang
paling umum untuk mengetahui prestasi murid sesudah proses pembelajaran adalah
dengan tes tertulis atau pensil dan kertas. Meskipun aspek pengetahuan dalam
ranah kognitif merupakan aspek yang paling penting mendapat penekanan,
seringkali penyusunan tes tertulis yang baik untuk aspek ini mempunyai kesulitas
tresendiri, oleh karena itu tidak ada salahnya jika disini dibahas dahulu oleh
murid. Sebagai langkah pertama hendaknya ditentukan tujuan khusus pembelajaran,
kemudian disusun bentuk tes. Bentuk tes dapat berupa pertanyaan sederhana yang
memerlukan jawaban sederhana, atau yang agak rumit berbentuk pilihan ganda.
Sebagai
contoh, tujuan khusus pembelajaran dalam suatu rancangan pembelajaran: murid
dapat mendefinisikan istilah-istilah tehnis dengan menyebutkan sifat-sifat,
hubungan, atau karakteristik sesuatu. Bentuk tesnya dapat berupa pertanyaan: “
Apakah volt itu” atau “Apakah definisi volt?” Pertanyaan sederhana ini dapat
diubah menjadi tes pilihan berganda jadi: Volt adalah satuan untuk:
a. Berat
b. Usaha
c. Jarak
d. Kerja
e. Volume
Contoh lain
misalnya pertanyaan: “Gelombang apakah yang dapat melalui ruang hampa udara?”
Pertanyaan diatas dapat disajikan sebagai pilihan berganda sebagai berikut:
Yang manakah dari gelombang-gelombang dibawah ini dapat melewati ruang hampa
udara?
a. Suara
b. Sinar
c.
Elektromagnetik
d. A dan b
e. B dan c
Untuk
menyusun soal-soal pilihan berganda hendaknya diingat bahwa:
1. Soal
mempunyai tiga bagian yaitu masalah, perancu, jawaban yang benar.
2. Masalah
merupakan pertanyaan langsung atau masalah yang keduanya mempergunakan
kata-kata yang jelas. Hindari pernyataan negative.
3. Perancu
(“distractor”) dan jawaban yang benar hendaknya berjumlah empat. Jawaban yang
benar hendaknya satu saja. Hindari kalimat / frasa: “semua yang tertulis
diatas” atau “semua yang tertulis diatas tidak benar”. Sebab frasa semacam ini
akan membingungkan murid. Dan jangan member i petunjuk tak langsung kepada
jawaban yang benar. Buatlah semua perancu nampak seperti mungkin.
4.
Distribusikanlah jawaban-jawaban benar pada soal –soal secara acak misalnya
jawaban benar pada soal nomor 1 adalah a dan jawaban benar pada soal nomor 1
adalah a jawaban benar pada soal-soal berikutnya ditentukan secara acak supaya
tidak terbaca suatu pola misalnya jawaban benar selalu a atau d. pastikan selalu
hanya ada satu jawaban yang benar. Dan hindarilah kata-kata mutlak misalnya:
tidak pernah, selalu, dan lain-lain dan juga jangan mengulangi kata-kata dalam
masalah.
Kelemahan-kelemahan
tes pilihan berganda adalah”
1. Guru tidak
mengetahui bagaimana caranya murid sampai pada jawaban itu.
2. Tes
pilihan berganda yang baik memerlukan banyak waktu dalam penyusunannya.
3. Biasanya
murid-murid tidak diminta menyelesaikan jawaban dengan kata-katanya sendiri.
4. Tes
semacam ini tidak tepat untuk kelas-kelas rendah atau anak-anak tingkat bacanya
rendah.
5. Tidak
dapat dipakai untuk masalah-masalah lingkungan atau untuk keterampilan proses.
Disamping
bentuk-bentuk tes seperti diatas, yes tertulis yang lain adalah tes berbentuk
uraian. Pada umumnya tes ini berbentuk kalimat perintah; uraikanlah mengenai
……. Dan berilah contoh-contohnya! Tes tertulis mempunyai kelemahan-kelemahan
sehingga sebaiknya dilengkapi dengan bentuk tes yang lain. Kelemahan-kelemahan
tes tertulis adalah tidak dapat dipakai untuk mentes murid dalam ketrampilan
proses IPA sebab dalam hal ini murid memperagakan/mempertunjukkan kemampuan
menerapkan satu atau lebih keterampilan berdasarkan pengetahuan mereka tentang
suatu konsep. Kelemahan yang lain adalah hasilnya dengan saat pembelajaran waktunya
terpaut cukup jauh sehingga jika diperlukan perubahan-perbahan dalam proses
pembelajaran akan terlambat jika hanya mengandalkan pada tes ini. Cara lain
untuk menilai kemampuan murid adalah mempergunakan pengamatan guru. kita
sebagai guru mengamati murid-murid dan menolong mereka didalam kelas.
Cara yang
paling cepat untuk melaksanakan ini adalah dengan mengajukan pertanyaan dan
memperhatikan jawaban murid-murid satu demi satu atau kelompok dalam kelompok.
Dengan mengajukan pertanyaan yang tepat, kita sebagai guru dapat melihat apakah
murid-murid memahami konsep dan proses IPA. Juga dapat dilacak melihat apakah
murid-murid memahami konsep dan proses IPA. Juga dapat dilacak apakah murid
mempunyai miskonsepsi dalam IPA sehingga dapat diperbaiki secara dini. Dengan
memperhatikan jawaban murid-murid secara cermat kita dapat mengetahui berapa
banyak yang mereka pelajari.
Untuk
mengamati murid-murid secara individual mungkin mengakibatkan kita terbentur
pada soal waktu, maka dapat dibuat kelompok-kelompok kecil untuk mata pelajaran
IPA dan murid-murid dilatih untuk belajar dan bekerja secara kooperatif. Untuk
menghindari pengamatan yang tidak menyeluruh, artinya ada murid yang terlewat
dari perhatian maka sebaiknya dibuat charta untuk setiap murid baik individu
maupun dalam kelompok yang diberikan tanda setiap selesai suatu konsep difahami
oleh yang bersangkutan. Pengamatan gru ini dapat dipahami untuk menilai
kemampuan murid dalam tingkat intelegensia rendah dan tinggi dalam taksonomi
Bloom jadi tidak hanya aspek pengetahuan dan pemahaman saja, tetapi juga
keempat aspek lainnya.
Kadang-kadang
terjadi murid-murid yang nyata-nyata memahami knsep dalam topic dan berperan
serta secara aktif didalam diskusi kelas ternyata gagal dalam tes tertulis.
Dalam kasus seperti ini mungkin gambar dapat dipakai untuk menilai aspek-aspek
yang lebih luas dari pada aspek pengetahuan. Klasifikasi, prinsip-prinsip dan
teori-teori dapat dites mempergunakan gambar-gambar. Untuk mempersiapkan tes
bergambar diperlukan latihan-latihan. Gambar-gambar dapat digunting dari
majalah atau Koran, untuk ini dapat juga murid-murid membantu mengumpulkan
gambar-gambar yang diperlukan. Nampak bahwa perencanaan yang matang akan
membantu pelaksanaan pekerjaan ini. Perlu diingat bahwa pemilihan gambar yang
komunikatif sesuai dengan kebutuhan akan sangat bermanfaat sehingga tes tidak
terlalu mengandalkan kata-kata atau terlalu banyak tulisan.
Cara lain
untuk menilai kamampuan murid-murid didalam IPA adalah dari buku jurnal IPA.
Dalam pembelajaran IPA sebaiknya murid-murid ditugasi melukis jurnal yang
berupa catatan-catatan, pengamatan selama melakukan percobaan-percobaan. Kita
dapat meminta murid-murid menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam petunjuk
percobaan secara tertulis. Jurnal dapat memperbaiki prestasi belajar IPA dan
menulis serta Bahasa Indonesia. Murid-murid dapat diberi tugas mendefinisikan
suatu konsep IPA sebelum dan sesudah pembelajaran. Dengan membandingkan
tulisan-tulisan tersebut murid-murid dapat menilai dirinya sendiri apa yang
mereka dapatkan selama pembelajaran. Menulis kreatif berdasarkan jurnalpun
dapat dipakai untuk menilai prestasi belajar mereka. Misalnya seorang murid
hendak menulis fiksi tentang kunjungan ke planet lain maka anjurkanlah
mempergunakan istilah-istilah yang dipelajari secara tepat antara lain:
gravitasi nol orbit, percepatan dan lain-lain. Menulis kreatif hendaknya
dihubungkan dengan konsep yang dipelajari. Bentuk tugas-tugas penulisan lainnya
misalnya: membuat ringkasan dari apa yang dipelajari, member pendapat, dan
mempertahankan pendapatnya. Menyusun suatu wawancara mengenai maslah lingkungan
merupakan alternative lain. Setiap tulisan dinilai dari kejelasan, logika dan
kelengkapan, serta penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Yang
terpenting adalah murid dapat melihat kemajuan dirinya sendiri melalui
penulisan tersebut.
Peta konsep juga dapat dipakai untuk
pengetahuan konseptual murid-murid. Peta konsep adalah alat bantu mengajar agar
murid-murid membangun pengetahuan yang saling berhubungan dan
pemahaman-pemahaman agar terjadi schemata yang berguna.
KESIMPULAN
Assesment
Autentik adalah pengukuran yang bermakna signifikan atas hasil belajar peserta
didik untuk ranah sikap,keterampilan dan pengetahuan. Assessment authentic
sendiri memiliki hubungan dengan kurikulum 2013 dengan tuntutan
kurikulum2013 assesment mampu
menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik .
Kata
lain dari assessment autentik adalah penilaian kinerja,portofolio,dan penilaian
proyek.Dalam pendidikan sangat lah penting adanya assessment autentik atau
penilaian sebenarnya karena dengan adanya penialian yang sebenarnya ilmu pengetahuan
hasil dari proses pembalejaran akan tampak berguna atau tidak bagi peserta
didik .
DAFTAR PUSTAKA
Samatowa,Usman.2010.
Pembelajaran Ipa di Sekolah Dasar.Jakarta:indeks
Sagala,Syaiful.2009.
Konsep Dan Makna Pembelajaran.Bandung: Alfabeta
Srini
M. Iskandar : Pendidikan Ilmu
Pengetahuan : Rabu, 15 Oktober 2014:
pukul 20:40
Drs.H.Usman Samatowa,M.Pd : Pembelajaran
IPA di Sekolah Dasar: Sabtu,20 Sepptember 2014: pukul 20:09
Iskandar,Srini
M dan Eddy M hidayat.1996/1997. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta:
Departermen Pendidikan Dan Kebudayaan Dikrektroat Jendral Pendidikan Tinggi
Sanjaya,Wina.2005.Pembelajaran
Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.Jakarta :Kencana
Mulyasa,
Muhammad.2013.Pengembangan Dan Implementasi Kurikulum 2013 Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar